Pohon Sakti Dari Gunung Kawi

Inilah yang namanya buah DEWANDARU, yang arti dari namanya adalah buah keberuntungan para dewa.
Pohon ini tergolong pohon perdu dan banyak tumbuh di dataran tinggi khususnya banyak tumbuh di daerah Gunung Kawi-Malang. Cikal bakal merebaknya pohon ini di Gunung Kawi menurut sejarah berasal dari tongkat Eyang YUGO yang ditancapkan. Eyang YUGO (Kyai ZAKARIA) adalah salah seorang mubaliq (dari dua) yang dimakamkamkan dalam makam keramat Gunung Kawi selain mbah Iman sujono (punggawa dari Pangeran Diponegoro).
Pohon itu walau berumur ratusan tahun tapi batangnya tetap sebesar lengan anak remaja, lain dengan pohon2 turunannya yg batangnya ada yg mencapai lengan orang dewasa bahkan lebih.
Menurut mitos, barang siapa yang bisa mendapat daun atau terlebih buahnya (yang jatuh sendiri) maka orang itu akan terlaksana apa yang menjadi keinginannya selama ini dan ini khusus dari pohon yang berada di makam eyang YUGO dan Raden Iman Sujono. Hal inilah yg menjadi daya tarik pengunjung wisata ritual digunung kawi hingga nama Gunung Kawi kesohor sampai manca negara..
Hayooo...siapa yg tertarik???? Silahkan berkunjung ke Gunung Kawi!!!



Rabu, 17 Agustus 2011 di Rabu, Agustus 17, 2011 , 0 Comments

Gadis Kebaya Usang

Lihatlah dia….
Gadis mungil memainkan jemarinya….
Diantara lembar pucuk muda…
Berbasah mesra dengan embun sang dewa….
Caping lebar, itulah riasnya….
Dan senyum tak putus mengiringi syairnya…

Lihatlah dia….
Selendang tipis yang tertepa angin….
Seakan melukis mimpi-mimpinya….
Melepas ringan segala beban….
Tiada jemu menanti sang hujan…..

Dia gadis berkebaya usang…
Seakan terpatung disudut jengkalnya…
Tak peduli bayangnya hendak kemana….
Bahkan tak lena…akan kicau alam yang merayu….
Semua bak lentera…berdendang dimalam sederhana….

Lihatlah….keringatnya enggan menetes….
Seakan malu merujuk wajah itu…

Gadis berkebaya usang….
Bagai putri tak bermahkota…
Merajam segala ingin dan duka…
Memanggul apa adanya dengan suka….
Sungguh…..aku ingin menyapanya….

karya : Mr. Gimin

di Rabu, Agustus 17, 2011 , 0 Comments

Surat Untuk Tuhan

Untuk: TUHAN ku

Ya ALLAH…ada sesuatu yg Engkau mau….walau aku tak pernah tahu, entah ini …entah itu….
Dulu, Engkau telah menabur benih dikebun hatiku. Tentang gelisah menahun dan pencarian semu.
Tapi, kini Engkau buat nyata semuanya dalam sekejap, disaat aku telah membeku. Engkau hadirkan kembali benih itu hingga bertunas dan berbunga. Apakah itu kekal atau sesaat? Itulah tanyaku padaMU.

Ya ALLAH…serasa tak kuasa aku untuk menggeleng atau mengangguk, karena begitu berat bagiku.
Disamping kiri ku ingin itu, disamping kanan ku ingin ia bahagia. Disaat bunga itu mulai mekar dan mewangi, ketakutanku mulai tiada batas. Tapi apa daya, aku sekarang berdiri disatu kaki.

Ya ALLAH… jika nanti Engkau beri jarak tempat duduk kami,….kapanpun itu…..
Hanya satu pintaku….tetap rapatkanlah hati ini.

Ya ALLAH…sampaikan pula maafku padanya….jika aku terlalu menyayanginya….

Ya ALLAH…salam hormat tak pantas untukMU…hanya rasa syukur ini yg patut terlantun…
Karena Engkau telah membimbingku tuk mengerti arti tentang:
Ketulusan dan keikhlasan dari kasih suci yg tak bertepi.

Hamba MU…..

Karya : Yudi Gimin

di Rabu, Agustus 17, 2011 , 0 Comments

Si Tole

Rumah itu begitu sepi walau baru jam setengah delapan malam. Terasa berat sekali hati ini tuk mengetuk pintu yg sederhana itu. Sejenak kuberdiri didepannya sambil mencoba menata raut yang sepertinya tak mau diajak kompromi. Akhirnya kupaksakan tuk sedikit menelan ludah sebagai doping keberanianku. "Assalamualaikum.....", ucapku pelan sambil lunglai tanganku mengetuk pintu. "Wa'alaikum salam", balas dari dalam rumah itu. "Oh..Tuhan, suara itu begitu meluluhkanku...bak membuka kembali kisah 12 th yang lalu....." Semakin pucat aku saat terdengar tangan menyentuh daun pintu.
Wajah yang begitu indah bagiku tiba-tiba muncul dibalik pintu seraya bertanya lirih "cari siapa mas?" Aku hanya bungkam dan senyum kecilku yang menjawabnya. Ia pun menatapku tajam sambil membenahi kerudungnya. "Mas Amri ya?" tanyanya lagi. Aku hanya mengangguk kaku. Sejenak ia pun terpaku dan menoleh kebelakang saat suara manja memanggilnya, "Mak...mak...!!!" Sambil membuka lebar pintu itu ia manyuruhku tuk masuk. Akupun bergegas menuju kursi kayu itu. "Sebentar mas," seraya dilangkahkan kakinya menuju suara itu.
Aku gusar dalam dudukku, entah apa yang harus kukatakan padanya nanti. Sambil menunggunya, kupasang telingaku tuk menikmati para penyair malam berbalas pantun. Begitu indahnya, sang jangkrik dan belalang seakan-akan tak memberi kesempatan katak tuk bernyanyi. Semakin kurasakan wajah itu begitu melekat kembali dengan suasana yang ada walau jujur kalau dia tak semanis 12 th lalu. Dinginnya malam mulai terasa saat sumilir bayu menyusup disela-sela dinding bambu yang seakan menggandengku kedalam jurang lamunan. "Le...sekarang tidur dulu ya, Emak ada tamu diluar!" Suara itu kembali terdengar dibalik dinding kamar yang seadanya.
"Siapa Mak?"
"Teman emak dulu."
"Teman Bapak juga ya?"
"He..em..."
"Mak....!"
"Ada apa lagi sih Le?"
"Kapan bapak pulang Mak, lebaran besok ya?"
"Iya...Le!"
"Bapak belikan aku apa ya Mak, Tole pingin sepatu baru."
"Iya..sekarang kamu tidur dulu ya, nanti tamunya nunggu lho."
Ya...ALLAH....aku semakin tak kuasa mendengar percakapan mereka, tiba-tiba sangat menyakitkan hatiku.
"Maaf mas Amri, nunggu lama ya?"
"Ah...enggak kok, tadi anakmu to Fah?"
"Iya mas, anak satu-satunya, Tole namanya."
"Kelas berapa?"
"Baru kelas 3 mas, tapi nakalnya minta ampun."
"ha...ha.....ha....." tawaku setengah memaksa.
"Oh ya mas, sebentar tak bikinin minum!"
"Gak usah Fah, jangan repot-repot ini saja sudah cukup." Sambil tanganku menghampiri kendi tanah yang seakan menjadi menu utama dimeja itu.
"Rifah, aku kesini sebenarnya mau ngomong sedikit!"
"Ngomong apa mas, penting ya? Lagian tahu dari mana kalau saya tinggal disini?"
"Ya, mungkin penting, mangkanya aku tahu tempatmu ini aku kesini."
"Lho...kok mungkin sih, sampeyan ini pancet ae kayak dulu gak berubah-rubah."
"Ha..ha..ha...sudahlah jangan bicara yang dulu-dulu lagi, kayaknya sekarang bukan saatnya."
"Lalu mas Amri mau ngomong apa?"
"Gini Fah,...... suamimu namanya Udin ya?"
"Iya...lho kok tahu sih mas, tahu dari mana?"
"Ssttt...jangan keras-keras...nanti anakmu dengar!"
"Ada apa to mas, aku kok tambah bingung saja."
Aku tahu kalau dia orangnya sangat kuat dan tabah jadi aku tak takut lagi tuk mengutarakan yang sebenarnya.
"Fah, sebelumnya aku mohon maaf yg sebesar2nya kalau aku membawa kabar yang menyakitkanmu!"
"Kabar apa sih mas?" tanyanya tanda tak sabar.
"Tapi janji ya, jaga suasana ini tetap tenang!" Pintaku sambil kuberanikan diri memegang tangannya yang tak halus lagi dan wajah tegang mulai terpampang jelas dari sorotnya.
"Begini Fah, aku mau ngabari kamu kalau suamimu telah tiada!"
"Ngomong apa sih mas, jangan bercanda gitu?"
"Sssstttt.....jangan keras-keras, sekarang dengarkan penjelasanku!" Dia pun mengangguk tanda setuju.
"Fah, aku ini sekarang jadi polisi, tolong percaya akan omonganku ini!" Diapun kembali mengangguk kecil.
"Seminggu yang lalu kami telah menembak mati seorang rampok, kami tidak tahu siapa dia karena tidak ada identitasnya dan mayatnya sekarang masih ada dirumah sakit di Jakarta sana. Lima hari setelah kejadian ada seseorang yang mengaku temannya dan memberikan sebuah dompet padaku, katanya itu adalah dompet orang yang kami tembak dan dia minta tolong untuk memberikan informasi pada keluarganya atas kejadian itu. Setelah kubuka dompetnya ada foto kamu, ini....coba kamu lihat." Sambil kusodorkan sebuah dompet kulit padanya.
Lalu dia membukanya pelan dan isak kecil tiba-tiba mengiringi air matanya jatuh kepipi. Seakan tak percaya, dia memandangku sendu penuh tanya.
"Mas...." Panggilnya sambil erat tangannya meremas jariku.
"Sudahlah Fah, ini semua sudah terjadi jangan disesali!" Hiburku menenangkannya.
Isak tangisnya semakin menjadi sambil ditutupinya rapat-rapat mulutnya.
Akupun mencoba memeluknya agar susana tetap terkendali.
"Sstt....Sudah-sudah jangan menangis....nanti anakmu bangun, kasihan dia Fah! Kuatkan hatimu ya..., besok mayat suamimu akan aku antar kesini."
Dia mengeleng dan terus mengeleng sambil menahan tangisnya.
"Lho..kenapa Fah....?"
"Jangan mas, jangan..... biarkan dia dikubur disana saja, aku tak mau Si Tole mengetahui hal ini. Ternyata ayah yang dibangga-banggakan selama ini adalah seorang perampok, bagaimana perasaanya kalau dia tahu mas?" Pintanya dengan nada yang mulai serak.
Aku hanya bisa menghela nafas panjang, tapi aku bisa memahami perasaanya dan akupun menganguk-angguk seakan-akan menyetujuinya.
"Baiklah Fah, aku janji untuk mengurusi semuanya dan mencoba merahasiakan hal ini, agar tak seorangpun tahu kalau bapak Tole adalah seorang perampok."
Seakan tak ingin lama-lama aku disana, akhirnya aku pun ucap pamit padanya.
"Fah, sekarang aku pamit dulu, mungkin ini bukan saat yang tepat untuk kita bertemu dan ini ada sedikit uang buat anakmu, katakan padanya kalau ini dari bapaknya untuk beli sepatu baru." kataku sambil ku serahkan uang dari dalam dompetku dan kuberanikan diri untuk masuk kedalam kamar itu sambil sejenak kupandang haru wajah tampan bocah yang sedang bermain dengan mimpi. Dia hanya terdiam mengikutiku, justru tangisnya hampir menjadi-jadi.
"Sudah...sudah, jangan begini.....kamu tadi kan sudah janji?" Pintaku kembali.
Memang rasa tak tega bergumul dengan kasihan begitu memberatkan langkahku. Tapi, kucoba tuk tegar saat kutatap merah matanya yang berkaca-kaca. Tak banyak yang ucapkan kembali, akupun berjalan meninggalkan rumah bambu itu.
"Fah...Rifah....maafkan aku ya," gumamku dalam hati.
Tiba-tiba pula rasa bersalahku belasan tahun silam muncul seketika. Tak pernah ada kabar buatnya kala kutinggalkan dia begitu saja, mungkin saat cintanya padaku begitu menggema penuh harap. Aku masih teringat betul saat bapaknya dulu berucap padaku kalau dia sangat tidak setuju bila aku berjodoh dengan anaknya. Entah apa alasannya, sampai sekarang akupun belum tahu dan itulah yg membuatku untuk meninggalkan Rifah. Kabar beritanya tak lagi kuikuti hingga aku menemukannya dalam keadaan dan suasana seperti ini.
Yah...semuanya sudah berlalu, bagai mimpi yang selalu berganti. Tapi, tak bisa kupungkiri kalau aku sangat kasihan sekali pada anak si Rifah. Aku sendiri tak bisa membayangkan kalau aku yang menjadi dia.
Seminggu sudah kejadian itu berlalu, tapi kalut hatiku masih belum bisa terima. Entahlah...yang jelas aku belum bisa melupakan keluarga sederhana yang baru saja berduka itu. Rasa ibaku begitu kuat pada sosok Si Tole dan sedikit jujur, sepertinya benih usang itu mulai tersirami lagi, ditengah masa melajangku saat ini. Kadang pula aku membayangkan sendiri, bagaimana jika aku yang akan menggantikan bapaknya Si Tole. Oh...Tuhan....rasanya tiada doa yang patut terucap ditengah kegundahanku ini mungkin hanya satu harapku, berikanlah yang terbaik pada Si Tole.

By: Mr.Gimin

di Rabu, Agustus 17, 2011 , 0 Comments

NamaMu

Saat malam menyapa ..
Ku coba rangkai sajak-sajak ..
Ungkapan hati ..
kata demi kata tak jua tertata ..
2 jam pun tlah berlalu ..
sobekan kertas warnai lantai ..
Dan akupun kembali menatap kertas kosong ..
Bingung .. bingung ..
Akhirnya ku goreskan satu kata ..
yaitu namamu ..

Rabu, 24 November 2010 di Rabu, November 24, 2010 , 0 Comments

Sejarah Bob Marley dan Musik Reggae

SEJARAH BOB MARLEY

Terlahir dengan nama Robert Nesta Marley pada Februari 1945 di St. Ann, Jamaika, Bob Marley berayahkan seorang kulit putih dan ibu kulit hitam. Pada tahun 1950-an Bob beserta keluarganya pindah ke ibu kota Jamaika, Kingston. Di kota inilah obsesinya terhadap musik sebagai profesi menemukan pelampiasan. Waktu itu Bob Marley banyak mendengarkan musik R&B dan soul, yang kemudian hari menjadi inspirasi irama reggae, melalui siaran radio Amerika. Selain itu di jalanan Kingston dia menikmati hentakan irama Ska dan Steadybeat dan kemudian mencoba memainkannya sendiri di studio-studio musik kecil di Kingston.


Bersama Peter McIntosh dan Bunny Livingston, Bob membentuk The Wailing Wailers yang mengeluarkan album perdana di tahun 1963 dengan hit “Simmer Down”. Lirik lagu mereka banyak berkisah tentang “rude bwai” (rude boy), anak-anak muda yang mencari identitas diri dengan menjadi berandalan di jalanan Kingston. The Wailing Wailers bubar pada pertengahan 1960-an dan sempat membuat penggagasnya patah arang hingga memutuskan untuk berkelana di Amerika. Pada bulan April 1966 Bob kembali ke Jamaika, bertepatan dengan kunjungan HIM Haile Selassie I —raja Ethiopia– ke Jamaika untuk bertemu penganut Rastafari. Kharisma sang raja membawa Bob menjadi penghayat ajaran Rastafari pada tahun 1967, dan bersama The Wailer, band barunya yang dibentuk setahun kemudian bersama dua personil lawas Mc Intosh dan Livingston, dia menyuarakan nilai-nilai ajaran Rasta melalui reggae. Penganut Rastafari lantas menganggap Bob menjalankan peran profetik sebagaimana para nabi, menyebarkan inspirasi dan nilai Rasta melalui lagu-lagunya.


The Wailers bubar di tahun 1971, namun Bob segera membentuk band baru bernama Bob Marley and The Wailers. Tahun 1972 album Catch A Fire diluncurkan. Menyusul kemudian Burning (1973–berisi hits “Get Up, Stand Up” dan “ I Shot the Sheriff” yang dipopulerkan Eric Clapton), Natty Dread (1975), Rastaman Vibration (1976) dan Uprising (1981) yang makin memantapkan reggae sebagai musik mainstream dengan Bob Marley sebagai ikonnya.


Pada tahun 1978, Bob Marley menerima Medali Perdamaian dari PBB sebagai penghargaan atas upayanya mempromosikan perdamaian melalui lagu-lagunya. Sayang, kanker mengakhiri hidupnya pada 11 Mei 1981 saat usia 36 tahun di ranjang rumah sakit Miami, AS, seusai menggelar konser internasional di Jerman. Sang Nabi kaum Rasta telah berpulang, namun inspirasi humanistiknya tetap mengalun sepanjang zaman.


One Love! One Heart!
Lets get together and feel all right.
Hear the children cryin (One Love!);
Hear the children cryin (One Heart!)
(One Love / People Get Ready)


Dreadlock
Selain Bob Marley dan Jamaika, rambut gimbal atau lazim disebut “dreadlocks” menjadi titik perhatian dalam fenomena reggae. Saat ini dreadlock selalu diidentikkan dengan musik reggae, sehingga secara kaprah orang menganggap bahwa para pemusik reggae yang melahirkan gaya rambut bersilang-belit (locks) itu. Padahal jauh sebelum menjadi gaya, rambut gimbal telah menyusuri sejarah panjang.


Konon, rambut gimbal sudah dikenal sejak tahun 2500 SM. Sosok Tutankhamen, seorang fir’aun dari masa Mesir Kuno, digambarkan memelihara rambut gimbal. Demikian juga Dewa Shiwa dalam agama Hindu. Secara kultural, sejak beratus tahun yang lalu banyak suku asli di Afrika, Australia dan New Guinea yang dikenal dengan rambut gimbalnya. Di daerah Dieng, Wonosobo hingga kini masih tersisa adat memelihara rambut gimbal para balita sebagai ungkapan spiritualitas tradisional.


Membiarkan rambut tumbuh memanjang tanpa perawatan, sehingga akhirnya saling membelit membentuk gimbal, memang telah menjadi bagian praktek gerakan-gerakan spiritualitas di kebudayaan Barat maupun Timur. Kaum Nazarit di Barat, dan para penganut Yogi, Gyani dan Tapasvi dari segala sekte di India, memiliki rambut gimbal yang dimaksudkan sebagai pengingkaran pada penampilan fisik yang fana, menjadi bagian dari jalan spiritual yang mereka tempuh. Selain itu ada kepercayaan bahwa rambut gimbal membantu meningkatkan daya tahan tubuh, kekuatan mental-spiritual dan supernatural. Keyakinan tersebut dilatari kepercayaan bahwa energi mental dan spiritual manusia keluar melalui ubun-ubun dan rambut, sehingga ketika rambut terkunci belitan maka energi itu akan tertahan dalam tubuh.


Seiring dimulainya masa industrial pada abad ke-19, rambut gimbal mulai sulit diketemukan di daerah Barat. Sampai ketika pada tahun 1914 Marcus Garvey memperkenalkan gerakan religi dan penyadaran identitas kulit hitam lewat UNIA, aspek spiritualitas rambut gimbal dalam agama Hindu dan kaum tribal Afrika diadopsi oleh pengikut gerakan ini. Mereka menyebut diri sebagai kaum “Dread” untuk menyatakan bahwa mereka memiliki rasa gentar dan hormat (dread) pada Tuhan. Rambut gimbal para Dread iniah yang memunculkan istilah dreadlocks—tatanan rambut para Dread. Saat Rastafarianisme menjadi religi yang dikukuhi kelompok ini pada tahun 1930-an, dreadlocks juga menjelma menjadi simbolisasi sosial Rasta (pengikut ajaran Rastafari).


Simbolisasi ini kental terlihat ketika pada tahun 1930-an Jamaika mengalami gejolak sosial dan politik. Kelompok Rasta merasa tidak puas dengan kondisi sosial dan pemerintah yang ada, lantas membentuk masyarakat tersendiri yang tinggal di tenda-tenda yang didirikan diantara semak belukar. Mereka memiliki tatanan nilai dan praktek keagamaan tersendiri, termasuk memelihara rambut gimbal. Dreadlocks juga mereka praktekkan sebagai pembeda dari para “baldhead” (sebutan untuk orang kulit putih berambut pirang), yang mereka golongkan sebagai kaum Babylon—istilah untuk penguasa penindas. Pertengahan tahun 1960-an perkemahan kelompok Rasta ditutup dan mereka dipindahkan ke daerah Kingston, seperti di kota Trench Town dan Greenwich, tempat dimana musik reggae lahir pada tahun 1968.


Ketika musik reggae memasuki arus besar musik dunia pada akhir tahun 1970-an, tak pelak lagi sosok Bob Marley dan rambut gimbalnya menjadi ikon baru yang dipuja-puja. Dreadlock dengan segera menjadi sebuah trend baru dalam tata rambut dan cenderung lepas dari nilai spiritualitasnya. Apalagi ketika pada tahun 1990-an, dreadlocks mewarnai penampilan para musisi rock dan menjadi bagian dari fashion dunia. Dreadlock yang biasanya membutuhkan waktu sekitar lima tahun untuk terbentuk, sejak saat itu bisa dibuat oleh salon-salon rambut hanya dalam lima jam! Aneka gaya dreadlock pun ditawarkan, termasuk rambut aneka warna dan “dread perms” alias gaya dreadlock yang permanen.


Meski cenderung lebih identik dengan fashion, secara mendasar dreadlock tetap menjadi bentuk ungkap semangat anti kekerasan, anti kemapanan dan solidaritas untuk kalangan minoritas tertindas.


SEJARAH MUSIK REGGAE

“Musik Jamaica Pendahulu”

Menurut
sejarah Jamaica, budak yang membawa drum dari Africa disebut “Burru”
yang jadi bagian aransemen lagu yang disebut “talking drums” (drum yang
bicara) yang asli dari Africa Barat. “Jonkanoo” adalah musik budaya
campuran Afrika, Eropa dan Jamaika yang terdiri dari permainan drum,
rattle (alat musik berderik) dan conch tiup. Acara ini muncul saat
natal dilengkapi penari topeng. Jonkanoos pada awalnya adalah tarian
para petani, yang belakangan baru disadari bahwa sebenarnya mereka
berkomunikasi dengan drum dan conch itu. Tahun berikutnya, Calypso dari
Trinidad & Tobago datang membawa Samba yang berasal dari Amerika
Tengah dan diperkenalkan ke orang – orang Jamaika untuk membentuk
sebuah campuran baru yang disebut Mento. Mento sendiri adalah musik
sederhana dengan lirik lucu diiringi gitar, banjo, tambourine, shaker,
scraper dan rumba atau kotak bass. Bentuk ini kemudian populer pada
tahun 20 dan 30an dan merupakan bentuk musik Jamaika pertama yang
menarik perhatian seluruh pulaunya. Saat ini Mento masih bisa dinikmati
sajian turisme. SKA yang sudah muncul pada tahun 40 – 50an sebenarnya
disebutkan oleh History of Jamaican Music, dipengaruhi oleh Swing,
Rythym & Blues dari Amrik. SKA sebenarnya adalah suara big band
dengan aransemen horn (alat tiup), piano, dan ketukan cepat “bop”. Ska
kemudian dengan mudah beralih dan menghasilkan bentuk tarian “skankin”
pad awal 60an. Bintang Jamaica awal antara lain Byron Lee and the
Dragonaires yang dibentuk pada 1956 yang kemudian dianggap sebagai
pencipta “ska”. Perkembangan Ska yang kemudian melambatkan temponya
pada pertengahan 60an memunculkan “Rock Steady” yang punta tune bass
berat dan dipopulerkan oleh Leroy Sibbles dari group Heptones dan
menjadi musik dance Jamaika pertama di 60an.


“Reggae N Rasta”

Bob
Marley tentunya adalah bintang musik “dunia ketiga” pertama yang jadi
penyanyi group Bob Marley & The Wailers dan berhasil memperkenalkan
reggae lebih universal. Meskipun demikian, reggae dianggap banyak orang
sebagai peninggalan King of Reggae Music, Hon. Robert Nesta Marley.
Ditambah lagi dengan hadirnya “The Harder they Come” pada tahun 1973,
Reggae tambah dikenal banyak orang. Meninggalnya Bob Marley kemudian
memang membawa kesedihan besar buat dunia, namun penerusnya seperti
Freddie McGregor, Dennis Brown, Garnett Silk, Marcia Fiffths dan Rita
Marley serta beberapa kerabat keluarga Marley bermunculan. Rasta adalah
jelas pembentuk musik Reggae yang dijadikan senjata oleh Bob Marley
untuk menyebarkan Rasta keseluruh dunia. Musik yang luar biasa ini
tumbuh dari ska yang menjadi elemen style American R&B dan
Carribean. Beberapa pendapat menyatakan juga ada pengaruh : folk music,
musik gereja Pocomania, Band jonkanoo, upacara – upacara petani, lagu
kerja tanam, dan bentuk mento. Nyahbingi adalah bentuk musik paling
alami yang sering dimainkan pada saat pertemuan – pertemuan Rasta,
menggunakan 3 drum tangan (bass, funde dan repeater : contoh ada di
Mystic Revelation of Rastafari). Akar reggae sendiri selalu menyelami
tema penderitaan buruh paksa (ghetto dweller), budak di Babylon, Haile
Selassie (semacam manusia dewa) dan harapan kembalinya Afrika. Setelah
Jamaica merdeka 1962, buruknya perkembangan pemerintahan dan pergerakan
Black Power di US kemudian mendorong bangkitnya Rasta. Berbagai
kejadian monumentalpun terjadi seiring perkembangan ini.


“Apa sih Reggae”

Reggae
sendiri adalah kombinasi dari iringan tradisional Afrika, Amerika dan
Blues serta folk (lagu rakyat) Jamaika. Gaya sintesis ini jelas
menunjukkan keaslian Jamaika dan memasukkan ketukan putus – putus
tersendiri, strumming gitar ke arah atas, pola vokal yang ‘berkotbah’
dan lirik yang masih seputar tradisi religius Rastafari. Meski banyak
keuntungan komersial yang sudah didapat dari reggae, Babylon (Jamaika),
pemerintah yang ketat seringkali dianggap membatasi gerak namun bukan
aspek politis Rastafarinya. “Reg-ay” bisa dibilang muncul dari anggapan
bahwa reggae adalah style musik Jamaika yang berdasar musik soul
Amerika namun dengan ritem yang ‘dibalik’ dan jalinan bass yang
menonjol. Tema yang diangkat emang sering sekitar Rastafari, protes
politik, dan rudie (pahlawan hooligan). Bentuk yang ada sebelumnya (ska
& rocksteady) kelihatan lebih kuat pengaruh musik Afrika -
Amerika-nya walaupun permainan gitarnya juga mengisi ‘lubang – lubang’
iringan yang kosong serta drum yang kompleks. Di Reggae kontemporer,
permainan drum diambil dari ritual Rastafarian yang cenderung mistis
dan sakral, karena itu temponya akan lebih kalem dan bertitik berat
pada masalah sosial, politik serta pesan manusiawi.


“Ngga asli Jamaika lho!”

Reggae
memang adalah musik unik bagi Jamaika, ironisnya akarnya berasal dari
New Orleans R&B. Nenek moyang terdekatnya, ska berasal berasal dari
New Orleans R&B yang didengar para musisi Jamaika dari siaran radio
Amrik lewat radio transistor mereka. Dengan berpedoman pada iringan
gitar pas – pasan dan putus – putusadalah interprestasi mereka akan
R&B dan mampu jadi populer di tahun 60an. Selanjutnya semasa musim
panas yang terik, merekapun kepanasan kalo musti mainin ska plus
tarinya, hasilnya lagunya diperlambat dan lahirlah Reggae. Sejak itu,
Reggae terbukti bisa jadi sekuat Blues dan memiliki kekuatan
interprestasi yang juga bisa meminjam dari Rocksteady (dulu) dan bahkan
musik Rock (sekarang). Musik Afrika pada dasarnya ada di kehidupan
sehari-hari, baik itu di jalan, bus, tempat umum, tempat kerja ato
rumah yang jadi semacam semangat saat kondisi sulit dan mampu
memberikan kekuatan dan pesan tersendiri. Hasilnya, Reggae musik bukan
cuma memberikan relaksasi, tapi juga membawa pesan cinta, damai,
kesatuan dan keseimbangan serta mampu mengendurkan ketegangan.


“It’s Influences”

Saat
rekaman Jamaika telah tersebar ke seluruh dunia, sulit rasanya
menyebutkan berapa banyak genre musik popular sebesar Reggae selama dua
dekade. Hits – hits Reggae bahkan kemudian telah dikuasai oleh bintang
Rock asli mulai Eric Clapton sampai Stones hingga Clash dan Fugees.
Disamping itu, Reggae juga dianggap banyak mempengaruhi pesona tari
dunia tersendiri. Budaya ‘Dancehall’ Jamaika yang menonjol plus sound
system megawatt, rekaman yang eksklusif, iringan drum dan bass, dan
lantunan rap dengan iringannya telah menjadi budaya tari dan tampilan
yang luar biasa. Inovasi Reggae lainnya adalah Dub remix yang sudah
diasimilasi menjadi musik populer lainnya lebih luas lagi.

Selasa, 23 Maret 2010 di Selasa, Maret 23, 2010 , 0 Comments

BIOGRAFI ROBERT NESTA MARLEY

Bob Marley seorang penyanyi, penulis lagu, gitaris dan aktivis Jamaica. Terlahir dengan nama Robert Nesta Marley pada tanggal 6 Februari 1945 di Nine Miles, Saint Ann Parish, Jamaica.Bob Marley mengawali karirnya dengan the Wailers, grup yang dia bentuk bersama Peter Tosh dan Bunny Livingston pada tahun 1963.

Bob Marley menikahi Rita Marley pada February 1966. Dan Rita-lah yang memperkenalkan Bob pada Rastafarianism. Pada tahun 1969, Bob, Tosh dan Livingston secara penuh telah memeluk Rastafarianism, yang sangat memengaruhi musik mereka dan reggae pada umumnya.

The Wailers berkolaborasi dengan Lee Scratch Perry, menghasilkan hit-hit unggulan seperti Soul Rebel, Duppy Conquerer, 400 Years dan Small Axe. Kolaborasi tersebut berakhir pahit karena Perry menjualnya di Inggris tanpa persetujuan the Wailers. Namun peristiwa tersebut berbuah manis, Chris Blackwell, pemilik Island Records mengontrak the Wailers dan memproduseri album mereka CATCH A FIRE dan BURNIN.

Pada tahun 1976, Bob Marley hijrah ke Inggris. Kreatifitasnya tak mereda, EXODUS berhasil nangkring di British charts selama 56 minggu. Kesuksesan ini diikuti album berikutnya, yaitu KAYA. Kesuksesan tersebut mampu mengantarkan musik reggae ke dunia barat untuk pertama kalinya.

Pada tahun 1977, Bob Marley divonis terkena kanker kulit, namun disembunyikan dari publik. Bob Marley kembali ke Jamaica tahun 1978, dan mengeluarkan SURVIVAL pada tahun 1979 diikuti oleh kesuksesan tur keliling Eropa.

Bob Marley melakukan 2 pertunjukan di Madison Square Garden dalam rangka merengkuh warga kulit hitam di Amerika Serikat. Namun pada tanggal 21 September 1980, Bob Marley pingsan saat jogging di NYC’s Central Park. Kankernya telah menyebar sampai otak, paru-paru dan lambung. Penyanyi reggae inipun akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya di Miami Hospital pada 11 Mei 1981 di usia 36 tahun, dengan meninggalkan seorang istri dan 5 orang anak.

di Selasa, Maret 23, 2010 , 0 Comments

JaH Rasta sLid sHow